Feeds:
Pos
Komentar

kode ID polimer

setiap produk yang terbuat dari bahan plastik atau pun polimer mempunyai kode id tersendiri. kode ini dibuat pun pasti ada tujuannya.. hanya saja tidak semua orang care terhadap masalah yang satu ini..

nahh,, kita sering sekali membeli produk2 seperti minuman dan makanan dalam kemasan terutama plastik tanpa mengetahui bagaimana karakteristik dari kemasan plastik tersebut, padahal, salah2 bisa berakibat fatal bagi tubuh.. mungkin saja dampak tidak dirasakan secara langsung, tapi akan terkumpul di dalam tubuh dan menumpuk hingga menyebabkab penyakit dalam jangka panjang..

KODE ID POLIMER itu sendiri dikeluarkan oleh suatu lembaga yaitu The Society of Plastic Industry ..

apa saja kode id polimer tersebut???
plastics_key_2

kode tersebut diatas biasanya ada di bagian bawah dari kemasan,, tiap angka menunjukkan bahan utama dari kemasan tersebut…

nomor 1 : dalam segitiganya tertulis nomor 1 dan/ tulisan PETE atau PET (polyethylene terephthalate) di bawah segitiga. Biasa dipakai untuk botol plastik, berwarna jernih/transparan/tembus pandang seperti botol air mineral, botol jus, dan hampir semua botol minuman lainnya. BOTOL JENIS PET/PETE ini direkomendasikan HANYA SEKALI PAKAI. Bila terlalu sering dipakai, apalagi digunakan untuk menyimpan air hangat apalagi panas, akan mengakibatkan lapisan polimer pada botol tersebut akan meleleh dan mengeluarkan zat karsinogenik (dapat menyebabkan kanker) dalam jangka panjang. ( lebih lanjut mengenai PET klick this link http://id.wikipedia.org/wiki/PET)

nomor 2 :tertera logo daur ulang dengan angka 2 di tengahnya, serta tulisan HDPE (high density polyethylene) di bawah segitiga. Biasa dipakai untuk botol susu yang berwarna putih susu, tupperware, galon air minum, kursi lipat, dan lain-lain. HDPE memiliki sifat bahan yang lebih kuat, keras, buram dan lebih tahan terhadap suhu tinggi. HDPE merupakan salah satu bahan plastik yang aman untuk digunakan karena kemampuan untuk mencegah reaksi kimia antara kemasan plastik berbahan HDPE dengan makanan/minuman yang dikemasnya. Sama seperti PET, HDPE juga direkomendasikan hanya untuk sekali pemakaian karena pelepasan senyawa antimoni trioksida terus meningkat seiring waktu ( lebih lanjut mengenai HDPE klik link ini http://id.wikipedia.org/wiki/HDPE).

nomor 3 :Tertera logo daur ulang (terkadang berwarna merah) dengan angka 3 di tengahnya, serta tulisan V. V itu berarti PVC (polyvinyl chloride), yaitu jenis plastik yang paling sulit didaur ulang. Plastik ini bisa ditemukan pada plastik pembungkus (cling wrap), dan botol-botol. Reaksi yang terjadi antara PVC dengan makanan yang dikemas dengan plastik ini berpotensi berbahaya untuk ginjal, hati dan berat badan. Sebaiknya kita mencari alternatif pembungkus makanan lain (bukan bertanda 3 dan V) seperti plastik yang terbuat dari polietilena atau bahan alami (daun pisang misalnya). lebih lanjut mengenai PVC klik ini

nomor 4: Tertera logo daur ulang dengan angka 4 di tengahnya, serta tulisan LDPE. LDPE (low density polyethylene) yaitu plastik tipe cokelat (thermoplastic/dibuat dari minyak bumi), biasa dipakai untuk tempat makanan, plastik kemasan, dan botol-botol yang lembek.
Sifat mekanis jenis plastik LDPE adalah
1. Kuat,
2. Agak tembus cahaya,
3. Fleksibel dan permukaan agak berlemak.
4. Pada suhu di bawah 60oC sangat resisten terhadap senyawa kimia,
5. Daya proteksi terhadap uap air tergolong baik,
6. Kurang baik bagi gas-gas yang lain seperti oksigen. 7. Plastik ini dapat didaur ulang, baik untuk barang-barang yang memerlukan fleksibilitas tetapi kuat, dan memiliki resistensi yang baik terhadap reaksi kimia.
Barang berbahan LDPE ini sulit dihancurkan, tetapi tetap baik untuk tempat makanan karena sulit bereaksi secara kimiawi dengan makanan yang dikemas dengan bahan ini. lebih lanjut tentang LDPE klik ini http://id.wikipedia.org/wiki/LDPE

nomor 5 :Tertera logo daur ulang dengan angka 5 di tengahnya, serta tulisan PP. Karakteristik adalah biasa botol transparan yang tidak jernih atau berawan. Polipropilen lebih kuat dan ringan dengan daya tembus uap yang rendah, ketahanan yang baik terhadap lemak, stabil terhadap suhu tinggi dan cukup mengkilap. Jenis PP (polypropylene) ini adalah pilihan bahan plastik terbaik, terutama untuk tempat makanan dan minuman seperti tempat menyimpan makanan, botol minum dan terpenting botol minum untuk bayi. Carilah dengan kode angka 5 bila membeli barang berbahan plastik untuk menyimpan kemasan berbagai makanan dan minuman. lebih banyak tentang polipropilen, klik saja http://en.wikipedia.org/wiki/Polypropylene

nomor 6 : PS biasa dipakai sebagai bahan tempat makan styrofoam, tempat minum sekali pakai, dan lain-lain. Polystyrene merupakan polimer aromatik yang dapat mengeluarkan bahan styrene ke dalam makanan ketika makanan tersebut bersentuhan. Selain tempat makanan, styrene juga bisa didapatkan dari asap rokok, asap kendaraan dan bahan konstruksi gedung. Bahan ini harus dihindari, karena selain berbahaya untuk kesehatan otak, mengganggu hormon estrogen pada wanita yang berakibat pada masalah reproduksi, dan pertumbuhan dan sistem syaraf, juga karena bahan ini sulit didaur ulang. Pun bila didaur ulang, bahan ini memerlukan proses yang sangat panjang dan lama. Bahan ini dapat dikenali dengan kode angka 6, namun bila tidak tertera kode angka tersebut pada kemasan plastik, bahan ini dapat dikenali dengan cara dibakar (cara terakhir dan sebaiknya dihindari). Ketika dibakar, bahan ini akan mengeluarkan api berwarna kuning-jingga, dan meninggalkan jelaga ( tentang polystyrene  http://en.wikipedia.org/wiki/Polystyrene

nomor 7 :tertera logo daur ulang dengan angka 7 di tengahnya, serta tulisan OTHER. Untuk jenis plastik 7 Other ini ada 4 jenis, yaitu :
1. SAN – styrene acrylonitrile,
2. ABS – acrylonitrile butadiene styrene,
3. PC – polycarbonate,
4. Nylon
Dapat ditemukan pada tempat makanan dan minuman seperti botol minum olahraga, suku cadang mobil, alat-alat rumah tangga, komputer, alat-alat elektronik, dan plastik kemasan. SAN dan ABS memiliki resistensi yang tinggi terhadap reaksi kimia dan suhu, kekuatan, kekakuan, dan tingkat kekerasan yang telah ditingkatkan. Biasanya terdapat pada mangkuk mixer, pembungkus termos, piring, alat makan, penyaring kopi, dan sikat gigi, sedangkan ABS biasanya digunakan sebagai bahan mainan lego dan pipa.
Plastik dengan jenis 7 yaitu SAN dan ABS merupakan salah satu bahan plastik yang sangat baik untuk digunakan dalam kemasan makanan ataupun minuman. Bagaimana jenis plastik dengan kode 7 serta tulisan PC? PC – atau nama Polycarbonate dapat ditemukan pada botol susu bayi, gelas anak batita (sippy cup), botol minum polikarbonat, dan kaleng kemasan makanan dan minuman, termasuk kaleng susu formula.
Dapat mengeluarkan bahan utamanya yaitu Bisphenol-A ke dalam makanan dan minuman yang berpotensi merusak sistem hormon, kromosom pada ovarium, penurunan produksi sperma, dan mengubah fungsi imunitas. Dianjurkan tidak digunakan untuk tempat makanan ataupun minuman. Ironisnya botol susu sangat mungkin mengalami proses pemanasan, entah itu untuk tujuan sterilisasi dengan cara merebus, dipanaskan dengan microwave, atau dituangi air mendidih atau air panas.

Bahan Plastik yang Aman

Sebelum membeli makanan atau minuman, masyarakat seharusnya memilih kemasan plastik yang aman digunakan. Untuk mengetahui bahan plastik yang aman digunakan, lihatlah nomor-nomor yang tertera pada kemasan.

Nomor itu biasanya berada di dalam segitiga tanda panah melingkar dibagian bawah kemasan. Setiap nomor menunjukkan bahan yang digunakan.

Nomor 1: Polyethylene terephtalate (PTE atau PETE), biasa digunakan mengemas air minum, minuman ringan berkarbonasi, jus buah-buahan, minyak goreng, saus, jeli, selai.

Nomor 2: High density polyethylene (HDPE), biasa digunakan untuk mengemas susu, yogurt, & botol galon air minum

Nomor 4: Low density polyethylene (LDPE), biasa digunakan sebagai plastik kemasan rapat (cling wrap), pengemas roti, makanan beku dan botol plastik yang dapat ditekan.

Nomor 5: Polypropylene (PP), biasa digunakan untuk mengemas sup, saus tomat dan margarin.

Diantara jenis plastik tersebut yang relatif paling aman dan telah mengalami uji dan evaluasi badan pengawasan obat dan makanan Amerika Serikat (FDA) adalah PET (nomor 1).

Jadi, bila botol air minum kita bertanda nomor 1, berarti terbuat dari PET & plastik itu aman untuk kemasan makanan atau bersifat food grade.

Menurut Dosen Dept Ilmu & Tek Pangan IPB, Dr. Yadi Haryadi, Msc, sebenarnya penggunaan botol plastik, khususnya botol plastik PET, secara berulang-ulang tidak menjadi masalah. Syaratnya, setiap akan dipakai atau diisi ulang, botol-botol tersebut harus dicuci bersih memakai sabun dan dikeringkan dahulu.

Bahan Plastik Yang Tidak Aman…!!!

Berikut adalah jenis plastik yang penggunaannya tidak diperbolehkan untuk bahan pangan karena mengandung bhn berbahaya yg dpt berpindah ke makanan.

Nomor 3: Polyvinyl chloride (PVC atau disebut vinil). Plastik ini sering dibuat cling wrap. Sering juga dipakai untuk wadah kue kering atau cokelat. Ada juga botol plastik yang dapat ditekan (untuk pengeluaran
bahan) terbuat dari PVC.

Nomor 6: Polystyrene (PS), sangat dikenal konsumen dlm bentuk kemasan stereofom seperti yang digunakan untuk mengemas buah & sayuran di toko-toko swalayan.

Nomor 7: Jenis plastik lainnya, terutama polycarbonate. Plastik ini mengandung bisphenol-A yang berbahaya dan dapat bermigrasi. Plastik ini tahan suhu tinggi. Ada yang menggunakan sebagai botol susu bayi dan alat-alat makan (sendok, garpu, pisau) plastik.

Hindari Panas & Minyak

Penggunaan plastik untuk membungkus makanan juga perlu diwaspadai. Hindari memanaskan makanan dengan wadah atau bungkus yang terbuat dari plastik dalam microwave.

Hindari menggunakan tempat dari bahan plastik untuk menaruh makanan panas, apalagi berminyak, dalam microwave. Menurut Yadi, beberapa studi menunjukan migrasi komponen plastik ke dalam bahan pangan selama pemanasan atau pada suhu tinggi semakin besar.

Kita juga sering melihat pedagang makanan menggunakan plastik untuk membungkus makanan tersebut dalam keadaan panas. Menurut Yadi, cara ini sangat beresiko karena kantong plastik yang digunakan tidak jelas asal usulnya. Migrasi bahan berbahaya dapat saja terjadi jika plastik tersebut bukan plastik berlabel food grade.

Karena kurangnya pengetahuan, kita tidak dapat menyalahkan pedagang kecil. Yadi menyarankan, jika akan membeli makanan panas, berminyak, atau berkuah, sebaiknya membawa sendiri wadah yang aman dari rumah.

jadi, mulai sekarang, kenali lah produk2 kemasan yang biasa kita pakai/ konsumsi… lebih bijak dalam memilih,, ini semua demi diri kita sendiri..

alkaloid

tau gak kalo di dalam suatu tumbuhan itu ada senyawa yang namanya alkaloid.. jadi alkaloid ini bisa di ekstrak dan di aplikasikan menjadi bahan lain,, contohnya ya,, kayak yang dibawah ini…

Nama alkaloid bagi senyawa-senyawa basa mengandung nitrogen yang terdapat dalam tumbuh-tumbuhan, berhubungan dengan penemuan anggota pertama dari golongan ini yakni morfina, C17H19O3N, yang dalam tahun 1814 oleh Serturner dipisahkan dari candu. Penyelidik ini menemukan bahwa morfina dapat memberikan garam-garam dengan asam-asam, sehingga dapat dipandang sebagai sebuah basa. Ini adalah contoh pertama dari sebuah senyawa karbon mengandung nitrogen yang bersifat basa, maka dari itu dinamakan sebagai alkaloid yang artinya sebuah senyawa yang bersifat sebagai alkali.
Dalam tahun 1820, Pelletier dan Caventou menemukan dua buah alkaloid lainnya, yang dipisahkan dari kulit kina, yaitu chinina, C20H24O2N2, dan sinchonina, C19H22ON2. Dalam tahun 1828, Posselt dan Reimann memisahkan sebuah zat cair bersifat basa dari tembakau yakni nikotina, C10H14N2. Dengan demikian alkaloid dimaksudkan sebagai senyawa-senyawa basa yang mengandung nitrogen dengan susunan majemuk dan yang terdapat dalam tumbuh-tumbuhan.
Banyak alkaloid mengandung sistem-sistem lingkar heterosiklik dengan atom-atom nitrogen yang terikat secara melingkar. Senyawa-senyawa ini dibagi atas golongan-golongan menurut macam sistem lingkarnya. Sekarang sekitar 5500 alkaloid telah diketahui dan merupakan golongan zat tumbuhan skunder yang terbesar.
Tumbuhan yang mengandung alkaloid, terutama adalah golongan besar dikotil (berkeping dua), meskipun diantara tumbuhan monokotil (berkeping satu) juga terdapat tumbuhan yang mengandung alkaloid. Beberapa suku dari tumbuhan dikotil yang anggotanya banyak menghasilkan alkaloid antara lain papaveraceae, papillionaceae, ranunculaceae, dan rubiaceae. Sebuah jenis tanaman yang mengandung alkaloid jarang sekali hanya mengandung satu alkaloid saja, melainkan kebanyakan mengandung beberapa alkaloid yang strukturnya mirip satu sama lain.
Alkaloid-alkaloid dalam tanaman hampir selalu terdapat dalam bentuk garam-garam yang terikat pada asam-asam sebagai asam oksalat, asam asetat, asam laktat, asam malat, asam tartrat, dan asam sitrat.

Beberapa jenis alkaloid yang banyak digunakan dalam farmasi antara lain:

Morfin
Morfin diberikan melalui pembuluh darah dan merupakan salah satu narkotika yang banyak digunakan sebagai penghilang rasa sakit. Obat ini juga menurunkan mentalitas dan fisik seseorang, mengurangi rasa lapar dan menyebabkan perubahan suasana hati serta tidak bisa berkonsentrasi dan menjadi apatis. Dengan menghilangkan rasa sakit dan perasaan khawatir, konsumsi morfin akan menimbulkan perasaan yang sangat senang atau disebut sebagai euphoria. Morfin sangat menimbulkan kecanduan dan oleh karena itu, penggunaan morfin harus hati-hati, meskipun dalam jumlah yang kecil.

Kafein
Kafein ditemukan dalam obat-obatan dan juga minuman kaleng. Sejumlah obat-obatan penghilang rasa sakit mengandung kafein sebagai salah satu bahan di dalamnya. Secara medis, kafein ini banyak digunakan sebagai perangsang kerja jantung dan untuk meningkatkan produksi urin (air seni). Disamping itu, kafein dengan dosis yang rendah banyak dipergunakan untuk membantu meningkatkan stamina dan menghilangkan kelelahan.

Nikotin
Dalam dosis yang sedikit, nikotin mempunyai efek stimulan, meningkatkan aktivitas, kewaspadaan dan daya ingat, juga meningkatkan detak jantung dan tekanan darah serta menurunkan selera makan. Sedangkan konsumsi nikotin dalam dosis yang banyak dapat menyebabkan rasa mual dan muntah-muntah. Penggunaan nikotin yang sering akan menyebabkan kecanduan.

Quinin
Derivat dari quinin banyak digunakan dalam perawatan otot wajah, dan dalam pengobatan beberapa jenis penyakit ginjal. Quinin dan derivatnya merupakan senyawa yang sangat dikenal untuk penyembuhan penyakit malaria. Serangan malaria akut biasanya diobati dengan kloroquin fosfat. Kloroquin fosfat biasanya dikonsumsi oleh orang yang hendak mengunjungai daerah yang terjangkit malaria seminggu sebelum keberangkatannya dan dikonsumsi lagi selama 6 minggu setelah meninggalkan daerah tersebut. Kloroquin fosfat tidak dapat menyembuhkan babeosis (penyakit sejenis malaria yang disebabkan oleh parasit) secara memuaskan.

secondary fiber pulping

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Meskipun semua kayu dapat dibuat menjadi pulp, tetapi hanya jenis kayu tertentu saja yang digunakan untuk pulp. Beberapa penyebab hal tersebut adalah kualitas serat dan ketersediaan, waktu tumbuh yang lama, energi pemanenan dan pemrosesan yang tinggi serta masalah lingkungan (G.A.Smook, 1989).
Salah satu alternatif untuk mengatasi masalah keterbatasan dan mahalnya bahan baku kertas dan pulp asli (virgin pulp), yaitu dengan pemakaian kembali kertas bekas sebagai bahan baku kertas. Kertas bekas dapat dikumpulkan dari berbagai sumber antara lain perkantoran, rumah tangga, pembuangan sampah dan lain sebagainya. Kertas bekas merupakan salah satu sumber serat yang potensial dan mempunyai prospek ekonomis yang tinggi. Kertas bekas yang telah mengalami pengolahan merupakan bahan baku serat yang dikenal dengan istilah serat sekunder (secondary fiber) (Jeni Rismijana dkk, 2003). Serat-serat sekunder merujuk kepada kertas-kertas daur ulang (G.A. Smook, 1989).

1.2 Perumusan Masalah
Masalah yang akan dirumuskan dalam karya ilmiah ini, yaitu, bagaimana proses pengolahan serat sekunder (secondary fiber) dalam industri? Serta, apa contoh produk yang dihasilkan dari proses pengolahan serat sekunder (secondary fiber) tersebut?

1.3 Tujuan
Tujuan yang diharapkan dari penulisan karya ilmiah ini adalah menambah wawasan tentang pembagian proses pengolahan serat sekunder (secondary fiber) dalam industri serta mengetahui proses yang dilakukan pada salah satu produk yang menggunakan serat sekunder (secondary fiber).

1.4 Manfaat
Adapun manfaat yang diharapkan dari penyusunan karya ilmiah ini adalah :
• Pembaca dapat mengetahui apa alternatif lain yang dapat dilakukan dalam mengatasi beberapa masalah klasik dalam industri pulp seperti masalah keterbatasan dan mahalnya biaya produksi bahan baku serat primer serta masalah lingkungan yang ditimbulkan.
• Memberikan informasi kepada pembaca bagaimana pengolahan serat sekunder (secondary fiber) serta apa produk yang dihasilkan dari proses tersebut.
• Diharapkan menjadi pendorong kepada pembaca untuk mulai mengembangkan teknik yang mungkin dapat menjadi alternatif lain dalam pengolahan serat sekunder (secondary fiber).

1.5 Ruang Lingkup
Sorotan utama dalam karya ilmiah ini adalah proses pengolahan serat sekunder (secondary fiber) menjadi produk yang merupakan studi kasus dari perusahaan paper board atau karton, dan produk yang dibahas adalah karton.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Proses Pulping ( Umum )
Pulping merupakan proses yang mana kayu diubah menjadi bubur serat kertas. Proses yang mungkin dilakukan adalah secara mekanik, secara termal, secara kimia atau dengan mengkombinasikan perlakuan-perlakuan tersebut (G.A.Smook, 1989).
Secara umum, proses pulping diklasifikasikan kedalam proses mekanik, kimia dan semi-kimia. Seperti yang terlihat dari tabel berikut :
Tabel 2.1 Klasifikasi umum dari proses pulp
Mekanik Hibrid (semi-kimia) Kimia
Pulping dengan energi mekanik (sedikit atau tanpa bahan kimia dan panas) Pulping dengan kombinasi proses secara kimia dan mekanik Pulping dengan proses kimia dan panas (sedikit atau tanpa energi mekanis)
yield tinggi (90-95%) yield sedang (55-90%) yield rendah (40-55%)
Kualitas cetak baik – Kualitas cetak buruk
Bleaching sulit – Bleaching mudah
Contoh :
• Stone Groundwood
• Refiner Mechanical pulp
• Thermo Mechanical Pulp Contoh :
• Neutral Sulfite Semichemical (NSSC)
• Kraft yield tinggi Contoh :
• Kraft
• Sulfit
• Soda
(G.A. Smook, 1989)

2.2 Secondary Fiber Pulping
Serat sekunder (secondary fiber) didefenisikan sebagai material serat yang telah digunakan pada suatu proses manufaktur dan telah didaur-ulang yang digunakan sebagai bahan baku untuk proses manufaktur produk lainnya. Serat-serat sekunder merujuk kepada kertas-kertas daur ulang (G.A. Smook, 1989).
Salah satu alternatif untuk mengatasi kelangkaan dan semakin mahalnya bahan baku kertas dari pulp asli (virgin pulp), yaitu dengan pemakaian kembali kertas bekas sebagai bahan baku kertas. Untuk memperoleh serat dari kertas bekas biasanya dilakukan melalui proses deinking yaitu proses penghilangan tinta dari serat. Proses penghilangan tinta secara konvensional dengan menggunakan bahan kimia akan berdampak terhadap lingkungan karena akan menghasilkan limbah.
Kertas bekas dapat dikumpulkan dari berbagai sumber antara lain perkantoran, rumah tangga, pembuangan sampah, dan lain-lain. Kertas bekas merupakan salah satu sumber serat yang potensial dan mempunyai prospek ekonomis tinggi. Kertasbekas yang telah mengalami pengolahan merupakan bahan baku serat yang dikenal dengan istilah serat sekunder (secondary fiber).
Penggunaan serat sekunder berkembang seiring dengan perkembangan teknologi, faktor ekonomis, dan keterbatasan sumber daya alam dalam penyediaan serat primer. Pemakaian serat dari kertas bekas atau serat sekunder untuk pembuatan lembaran kertas mempunyai beberapa keuntungan antara lain meningkatkan stabilitas dimensi, opasitas dan formasi yang lebih baik serta kecenderungan curl yang rendah. Sedangkan kerugiannya antara lain derajat putih dan kekuatan relatif lebih rendah, mengandung kontaminan yang beragam dan derajat giling yang tidak seragam, serta seratnya relatif pendek (Jeni Rismijana dkk, 2003).
Kertas koran merupakan salah satu jenis kertas yang banyak digunakan sebagai media masa cetak yang diterbitkan setiap hari dengan jumlah yang besar dan setelah dibaca biasanya langsung dibuang. Kertas koran mengandung sekitar 80-85 % pulp mekanis dan 15-20 % pulp kimia yang berfungsi untuk meningkatkan kekuatan kertas. Kertas koran dapat dibuat dari berbagai bahan baku diantaranya kertas koran bekas (ONP), campuran kertas bekas (MWP), CPO, campuran pulp dan kertas bekas. Pada kertas koran bekas, kontaminan utamanya adalah tinta cetak yang umumnya terdiri dari pigmen atau butiran tinta yang berperan sebagai pembawa warna berbentuk partikel padatan kecil, vehicle atau zat pembawa pigmen berfungsi mengalirkan pigmen tinta pada kertas selama pencetakan sehingga dapat berikatan dengan serat. Vehicle umumnya berupa resin, minyak nabati, dan larutan volatile. Proses cetak pada kertas koran umumnya dilakukan secara offset atau letterpress. Sistim pencetakan pada kertas memakai tinta dengan zat pembawa pigmen tidak mengering tetapi hanya diadsorpsikan pada serat dan dicetakkan pada kertas yang tidak disalut (uncoated). Zat pembawa pigmen tersebut dapat disabunkan dengan alkali untuk melepaskan pigmen sehingga partikel karbon pecah menjadi partikel-partikel halus yang dapat dihilangkan secara efisien dengan proses deinking konvensional yakni cara flotasi atau washing.
Biasanya ada 2 cara yang banyak dilakukan dalam mengolah serat yaitu mengolah sumber-sumber serat sekunder secara langsung dan mengumpankan kembali dengan bubur kayu mentah.
Pada cara pertama, proses yang dilakukan adalah deinking yaitu peluruhan warna atau tinta pada serat sekunder. Harga bubur pulp yang lebih rendah dan mengurangi beban produksi merupakan salah satu motivasi untuk menggunakan proses deinking. Serat sekunder tidak sekuat serat asli kayu, oleh karena itu keduanya sering dicampur.
Deinking adalah nama bagi proses recycling atau daur ulang untuk membuang tinta-tinta yang ada pada kertas sebelum buburnya dibuat menjadi produk. Langkah-langkah yang dilakukan antara lain :
a. Pulping atau fibering
b. Cleaning dan screening
c. Washing (floating) out contaminants
d. Thickening atau dewatering
e. Bleaching (bila diperlukan)
(Emerson, 2004)
Serat sekunder dikombinasikan dengan bahan-kimia pembuatan bubur dan air di dalam pengurai pulp. Pengurai pulp itu dapat dioperasikan secara batch, pada umumnya yang digunakan untuk beban-beban yang lebih kecil atau secara kontinu. Tiga jenis dari surfaktan-surfaktan digunakan; deterjen-deterjen untuk menghilangkan tinta dari serat, dispersant untuk mencegah penempatan kembali tinta ke dalam serat, dan foaming agent untuk mendispersikan tinta dalam bentuk busa. Bahan-kimia lain seperti kaustik, sodium silikat, boraks, dan peroksida boleh juga digunakan. pH itu adalah secara umum bersifat alkali. Konsistensi di dalam pengurai pulp itu adalah secara relatif ketinggian pada padatan-padatan 5-8%.
Materi berat dan partikel-partikel yang besar dipindahkan oleh pembersih sentrifugal dan screen. Bubur-bubur kayu yang hasilnya dapat terpisah dari tinta-tinta dengan pencucian bertingkat atau flotation cell. Sel flotasi menyebabkan partikel-partikel tinta naik ke permukaan di mana mereka dapat mengapung. Proses cucian membantu membuang zat- zat pencemar tetapi tidak menangkap banyak serabut seperti ketika proses pengapungan. Suatu yang dikombinasikan proses yang menggunakan kedua-duanya langkah-langkah menghasilkan mutu terbaik bubur kayu.
Bursa/stock bubur kayu dari mesin cuci atau sel flotasi yang dilemahkan oleh sejumlah yang besar dari air dan dikentalkan sebelum dikirim kepada penyuling-penyuling atau menara pemutih (bleach tower). Pulp yang telah diputihkan itu dicuci untuk membersihkan semua bahan-kimia pemutih sebelum dikirim ke kertas mesin. pH diukur di dalam pengurai pulp untuk mengoptimalkan efisiensi dari surfaktan-surfaktan yang digunakan untuk membuang tinta dari kertas yang didaur ulang. Surfaktan-surfaktan itu relatif mahal yang lebih efektif dengan kondisi-kondisi bersifat alkali. Ketika kondisi-kondisi terlalu basa, bubur kayu yang hasilnya bisa discolored dan terlalu rapuh, membuat suatu produk mutu yang buruk. pH di dalam pengurai pulp adalah pada umumnya antara 9.5 dan 11, dan temperatur yang meningkat untuk mempercepat proses.
Cara yang kedua yaitu dengan mengumpankan kembali dalam bubur pulp. Cara seperti sama seperti yang dilakukan oleh ITC limited Bhadrachalam, salah satu perusahaan kertas karton (Anonim, 2006).
Pada unit ITC Bhadrachalam, produk yang dihasilkan adalah:
• Karton coated: Cyber XLPac, Art Maestro, Pearl Graphik, Ecoviron, dll.
• Karton/ kertas Cast Coated: Indolux Safire, Indolux Paper, Indolux Label base
• Karton Khusus: Carte Persona, Cupstock Base, PE Coated Board
• Kertas: tulis dan cetak, Kertas poster MG

Bahan baku yang digunakan berbahan baku kayu-kayuan: Bambu, Eucalyptus,Casuarine, campuran kayu keras dengan serat daur ulang seperti limbah kertas (G.A.Smook,1989).
2.3 Pemanfaatan Enzim untuk Deinking
Satu lagi pengolahan serat sekunder yang dilakukan yaitu dengan bantuan suatu enzim. Pengolahan ini jarang dilakukan hanya sebatas skala laboratorium saja. Dengan perkembangan dalam bidang bioteknologi, biodeinking semakin diminati dengan penggunaan enzim selulase dan hemiselulase untuk menghilangkan kontaminan tinta dari kertas bekas karena lebih ramah lingkungan dan tidak banyak limbah dari penggunaan bahan kimia. Enzim merupakan suatu katalisator dalam reaksi biokimia dan setiap enzim mempunyai kemampuan spesifik untuk merubah molekul tertentu. Menurut Haldare, enzim merupakan larutan koloid atau katalis organik yang dihasilkan mikroorganisme. Sebagai katalisator, enzim hanya meningkatkan kecepatan reaksi dan sangat spesifik untuk reaksi yang dikatalisanya. Enzim adalah bahan kimia yang dihasilkan mikroorganisme untuk meningkatkan kecepatan reaksi menuju keadaan keseimbangan reaksi kimia, sehingga sifat termodinamika sistim tidak berubah.
Enzim yang umum digunakan dalam daur ulang kertas bekas adalah selulase, xylanase, hemiselulase. Sedangkan dalam biodeinking, selulase dan hemiselulase yang paling banyak digunakan. Bagaimana mekanisme kerja enzim dengan struktur selulosa masih belum diketahui dengan jelas . Menurut Lee dkk faktor terpenting dalam mempelajari sistim selulosa-selulase adalah sifat struktur dari bahan selulosa karena hidrolisa secara enzimatis terhadap selulosa sebagian besar tergantung pada bahan kimia alam dan struktur fisik dari substrat selulosa. Kecepatan reaksi hidrolisa enzimatik dipengaruhi oleh kristalinitas substrat, asesibilitas enzim, luas permukaan spesifik, derajat polimerisasi dan unit dimensi sel dari bahan selulosa . Berdasarkan Oltus et.al reaksi selulase adalah pemutusan rantai serat. Sedangkan berdasarkan Prommier dkk. enzim menyerang permukaan serat menghasilkan efek peeling. Bila efek ini dibatasi dan dikontrol, enzim hanya akan memindahkan elemen-elemen kecil atau campuran yang mempunyai afinitas lebih besar terhadap air tetapi yang kontribusinya kecil terhadap ikatan hidrogen dari serat. Menurur Jackson dkk. enzim jenis selulase dapat memflokulasi fine (serat yang berukuran kurang dari 75 µm) dan partikel-partikel kecil serat. Fine akan dihidrolisa mengakibatkan peningkatan derajat giling (freeness), dan permukaan serat menjadi bersih dari fibril dan partikel-partikel Hal yang menarik dari penggunaan enzim pada proses deinking adalah pembatasan penggunaan bahan kimia seperti NaOH, NaSiO, H,O, chelating agent, sehingga beban COD dan BOD limbah cair dapat berkurang. Kebanyakan penggunaan enzim pada proses deinking terpusat sekitar kertas Koran atau pulp mekanis lainnya.
Kertas koran bekas diuraikan dalam beater tanpa beban selama 7,5 menit, kemudian pada konsistensi stok 4 %, pH 5 (dengan penambahan H2SO4 encer) dan suhu 400C ditambahkan enzim dengan variasi 0-1,5%, diaduk selama 30 detik dan dibiarkan bereaksi selama 60 menit untuk memberi kesempatan enzim tendegradasi permukaan serat. Setelah 60 menit ditambahkan es atau air dingin (suhu 5-100C) untuk menghentikan aktivitas enzim. Stok diencerkan menjadi konsistensi 0,8% dandipanaskan hingga 600 C, lalu ditambahkan kolektor sebanyak 0,5% terhadap berat kering serat. Kemudian dilakukan proses flotasi selama 20 menit. Stok hasil flotasi dicuci hingga pH netral. Sebagian dari stok dibuat lembaran dengan gramatur 55 g/m2, dan sebagian lagi dilakukan proses pemutihan menggunakan H2O21%, NaOH 0,15%, Na2SiO32% dan DTPA 0,3%, pada kondisi pH 10 dan suhu 70 C selama 60 menit. Stok hasil pemutihan kemudian dibuat lembaran dengan gramatur 55 g/m.
Terhadap lembaran yang diperoleh dari hasil flotasi dan pemutihan, dikondisikan pada suhu 23±1C dan RH 50±2 % selama 24 jam kemudian dilakukan pengujian sifat fisik dan optik meliputi derajat putih, opasitas, noda, indeks tarik, indeks sobek dan daya regang (Jeni Rismijana dkk, 2003).

BAB III
METODOLOGI PROSES

3.1 Secara langsung ( Deinking )
Pada proses ini kertas buangan atau sisa-sisa kertas seperti kertas koran langsung dibuat menjadi bubur pulp tanpa penambahan bubur kayu ( virgin pulp ). Proses yang terjadi dapat dilihat pada gambar

3.2 Secara tak langsung
Berbeda dengan proses secara langsung, pada metoda tak langsung ini serat sekunder ditambahkan pada virgin pulp. Hal ini terdapat dalam proses pembuatan kardus. Proses pabrik ini secara keseluruhan dibagi menjadi:
• Proses pembuatan bubur kertas/ pulp (Pulping)
• Pembuatan kertas

3.2.1 Proses Pulping
Proses pulping tediri dari penyiapan bahan baku,pembuburan/digestion, pencucian dan pemutihan. Langkah kegiatan ini dilakukan dalam bagian yang berbeda seperti yang digambarkan berikut ini:

• Ruang Pencacah/ Digester: Bahan baku seperti batangan bambu, gelondongan eucalyptus, casuarinas, sibabul dicuci dengan air dan dirajang oleh alat pencacah. Campuran bahan hasil perajangan tersebut ditimbang dan diumpankan ke batch digester. Dalam digester, ditambahkan white dan black liquor pada takaran tertentu tergantung total alkali aktif dan total alkalinitas yang dapat dititrasi hingga mencapai bath ratio 1: 275. Liquor umpan dipanaskan terlebih dahulu secara tidak langsung dengan menggunakan steam (steam tidak langsung). Pembuburan dalam digester berlangsung selama 25 jam dengan menggunakan steam langsung. Bubur kertas (pulp) hasil dari digester selanjutnya dialirkan ke tangki dan dilarutkan dengan black liquor kemudian dipompa ke tangki LC untuk pelarutan lebih lanjut.

• New Fibre Line: Pulp yang sudah dilarutkan kemudian dicuci dan diputihkan (bleaching) dengan menggunakan teknologi baru Fibre line. Sistim ini lebih canggih dimana air yang digunakan untuk pencucian dan pemutihan sangat sedikit. Dan untuk meningkatkan efisiensi pencucian dan pemutihan maka digunakan air panas. Proses pemutihan Elemental Chlorine Free (ECF) digunakan untuk mengurangi pembentukan AOX. Proses ECF menggunakan delignifikasi oksigen diikuti proses ekstraksi oksigen dan proses pemutihan dengan ClO2.

• New Secondary Fibre Treatment: Sebagai bahan tambahan terhadap virgin pulp, dapat juga ditambahkan serat daur ulang untuk pembuatan kardus. Limbah kertas dibuat menjadi pulp, baik dalam batch pulper maupun continuous pulper, dibersihkan dalam pembersih densitas tinggi diikuti dengan centricleaners, dikentalkan dan dilewatkan ke dispenser panas untuk mendapatkan hasil yang seragam. Disamping itu pulp kayu lunak (softwood) impor juga biasa digunakan untuk keperluan ini.

3.2.2 Pembuatan Kertas
Pembuatan kertas dimulai dari penyaringan konvensional, pembersihan dan pembentukan kertas (wire section), pengepresan, pengeringan. Terdapat empat mesin pembuatan kertas dan kertas kardus, yaitu:

• Mesin Kertas1: Merupakan mesin kombinasi yang mampu menghasilkan uncoated MG/MF, produk-produk Single/Multi-ply. Uncoated karton duplex, karton triplex (pengemas cairan) dan kertas kraft dihasilkan oleh mesin ini.
• Mesin Kertas2: Merupakan mesin MF serba guna yang dilengkapi dengan unit size press & kusters calendaring dan measurex caliper control.
• Mesin Kertas3: Merupakan mesin kertas Yankee kecil digunakan untuk
membuat kertas poster MG untuk pembungkus dan berbagai pengemasan.
• Mesin Kertas4: Mesin ini merupakan state of the art mesin board yang memberikan keuntungan signifikan terhadap persaingan global dalam hal kualitas, skala ekonomi dan biaya. Karton Folding box, Karton SBS, Karton WLC, dan karton pengemas cairan adalah produk-produk yang dihasilkan oleh mesin ini. Detail mesin: 3 lapis, 4 konfigurasi kawat, diameter MG 6.5 m, 3 unit pelapis, DCS & QCS: 5 smart platform untuk kontrol dan umpan balik secara online.
Kertas karton terdiri dari beberapa lapis. Hanya lapis teratas yang terbuat dari virgin pulp yang diputihkan. Lapis kedua diperoleh dari pulp yang gagal di mesin. Lapis tengah dan bawah dibuat dari pulp serat sekunder (NSFT). Bagian bawah diberi perlakuan kimia dengan menggunakan sizing bahan kimia. Tahap utama meliputi pemurnian, pencampuran dengan sizing bahan kimia, Alum, dll. Untuk lapisan atas dan bawah diikuti proses pembersihan dengan tenaga sentrifugal/centricleaning, dan pembersihan dengan saringan bertekanan/ pressure screen cleaning. Pulp yang sudah bersih diumpankan ke head box kemudian bergerak ke seksi fourdrineir wire untuk lapisan atas dan ke formers (struktur silindris dengan isapan vakum). Pembentukan lembaran terjadi pada seksi wire/former. Kelebihan kadar air dibuang pada seksi pengepresan yang selanjutnya dikeringkan oleh beberapa pengering. Proses pembuatan kertas tulis dan cetak pada prinsipnya sama dengan pembentukan lapisan tunggal pada proses pembuatan kertas karton.
Limbah yang berasal dari mesin kertas didaur ulang melalui tangki air hangat, Tangki Guna ulang Serat yang Baru (NFRT) atau saveall, dll. Disamping tahapan proses utama tersebut masih terdapat beberapa unit tambahan lainnya, yang pada dasarnya dimaksudkan untuk penggunaan kembali dan penggunaan ulang limbah yang dihasilkan selama proses produksi. Unit-unit tersebut adalah:
• Plant Pulp lembaran
• Plant ClO2 and O3
• Plant guna ulang Soda, Causticiser dan kiln kapur.

BAB IV
KESIMPULAN DAN SARAN

4.1 Kesimpulan
Adapun kesimpulan yang dapat ditarik dari makalah ini antara lain :
1. Proses pengolahan serat sekunder dapat dilakukan dengan 2 (dua) cara yaitu secara langsung yang disebut dengan deinking dan tidak langsung yaitu dengan mengumpankan kembali dengan bubur kayu mentah.
2. Pada pembuatan kardus pulp yang digunakan yaitu bubur kayu ( virgin pulp ) dan pulp serat sekunder (NSFT)

4.2 Saran
1. Pendaur-ulangan ( recycle ) kertas buangan (sisa) sebaiknya dimaksimalkan agar mengurangi banyak sampah-sampah kertas sehingga mengurangi masalah lingkungan.
2. Limbah produksi pulp yang dihasilkan hendaknya diminimalisir agar mengurangi dampak negatif terhadap lingkungan, salah satu cara yang mungkin dapat dilakukan adalah dengan mendaur-ulang serat dari limbah kertas menjadi produk kertas yang dapat dimanfaatkan lagi
3. Penggunaan serat kayu, hendaknya lebih diperhatikan lagi oleh fihak produsen, karena pengaruhnya terhadap ekosistem kayu sebagai bahan baku serat akan mengakibatkan menurunnya kualitas lingkungan yang dalam skala besarnya dapat mempercepat global warming.

asidi-alkalimetri

Asam adalah suatu zat yang larutannya berasa asam, memerahkan lakmus biru, dan menetralkan basa. Sedangkan basa adalah suatu zat yang larutannya berasa pahit dan terasa licin, membirukan kertas lakmus merah, dan menetralkan asam.
Ada beberapa konsep asam-basa yang pernah dikemukakan oleh para ahli yaitu konsep asam-basa menurut Arrhenius dan konsep asam-basa menurut Bronsted-Lowry.

• Asam-basa menurut Arrhenius-Ostwald
Teori yang dikemukakan oleh arrhenius antara lain :
Asam dinyatakan sebagai senyawa yang dapat memberikan ion hidrogen (H+) bila dilarutkan dalam air.
Basa merupakan suatu senyawa yang dapat memberikan ion hidroksi (OH-) bila dilarutkan dalam air.
Tiga yang pertama dalam tiap kelompok bersifat sangat atau seluruhnya terionkan dalam larutan air dandikelompokkan sebagai asam kuat ataupun basa kuat. Di pihak lain, asam asetat dan amonia hanya sedikit terionkan dalam larutan air dan karenanya dikelompokkan masing-masing sebagai asam bila dihadapkan pada basa. Zat seperti itu disebut senaywa amfotir atau zat amfotir.

• . Asam-basa menurut Bronsted dan Lowry
Menurut bronsted asam adalah suatu spesi yang bias memberikan protonnya atau kelebihan proton sedangkan basa adalah spesi yang bias menerima proton. Teori asam-basa dari Arrhenius banyak digunakan orang karena kesedarhanaannya. Tetapi, teori tersebut memiliki keterbatasan yaitu hanya dapat menjelaskan asam-basa senyawa organik dalam larutan air. Senyawa-senyawa yang dapat dijelaskan adalah senyawa-senyawa yang memiliki jenis rumus kimia HX untuk asam dan LOH untuk basa. Teori ini tidak dapat menjelaskan kenyataan bahwa CO2 dalam air bersifat asam atau NH3 dalam air bersifat basa. Pada larutan ammonia sebagai pelarut, bias membentuk NH4+ sebagai asam dan dapat berbentuk NH2- sebagai basa. Pada teori ini ion H+ dan ion OH- mempunyai peranan yang penting dalam penentuan sifat asam dan basa dan hanya air sebagai pelarutnya. Fakta menunjukkan bahwa HClO4 bersifat asam dalam pelarut air. Asam ini juga menunjukkan sifat asamnya dalam pelarut bukan air, misalnya pelarut asam cuka glasial dan pelarut amonia cair. Dari fakta-fakta itulah dapat diperkirakan bahwa ion H+ yang mempunyai peranan yang mempunyai peranan yang istimewa dalam menentukan sifat asam.
Titrasi asam-basa sering disebut asidimetri-alkalimetri. Kata metri berasal dari bahasa Yunani yang berarti ilmu, proses atau seni mengukur. Jadi asidimetri dapat diartikan penentuan kadar suatu asam dalam larutan dan alkalimetri dapat diartikan penentuan kadar suatu basa dalam suatu larutan. Asidimetri-alkalimetri menyangkut titrasi asam dan atau basa diantaranya :

1. Asam kuat-basa kuat
2. Asam kuat-basa lemah
3. Asam lemah-basa kuat
4. Asam kuat-garam dari asam lemah
5. Basa kuat-garam dari basa lemah

Mengingat kembali bahwa perhitungan kualitas zat dalam titrasi didasarkan pada jumlah perekasi yang tepat saling menghabiskan dengan zat tersebut, sehingga berlaku :
Jumlah ekivalen analat = jumlah ekivalen pereaksi
Atau ( V x N)analat = ( V x N)perekasi

Maka jumlah pereaksi harus diketahui dengan teilti sekali, sebagai berat gram ataupun sebagai larutan dengan konsentrasi dan volume. Larutan yang diketahui dengan tepat konsentrasinya dan dipakai sebagai pereaksi dalam arti ini disebut larutan baku.
Telah berulang kali dikemukakan, bahwa larutan NaOH dipakai untuk titrasi asam, tetapi NaOH tidak dapat diperoleh dalam keadaan sangat murni. Karena itu, konsentrasi tepatnya tidak dapat dihitung dari berat NaOH yang ditimbang dan volume larutan yang dibuat, walaupun kedua-duanya dilakukan dengan cermat.
Larutan NaOH ini harus `distandardisasi` atau `dibakukan`, yakni ditentukan konsentrasinya yang setepatnya atau sebenarnya. Cara yang mudahuntuk standardisasi ialah dengan titrasi, misalnya larutan NaOH itu dipakai sebagai titrant untuk menitrasi suatu larutan “bahan baku primer”.
Pada titrasi standardisasi harus diusahakan ketelitian yang sebesar-besarnya, setidak-tidaknya lebih teliti daripada titrai yang akan menggunakan NaOH itu nanti. Untuk itu perlu diperhatikan hal-hal berikut :
a. bila bahan baku primer (bbp) digunakan sebagai zat padat, minimum hendaknya ditimbang 200 mg agar kesalahan penimbangan tak lebih dari 0,1% (menimbang selalu dua tahap, yakni menimbang wadah kosong kemudian bersama bahan baku primer, dan dengan neraca analitik umumnya kesalahan menimbang sekitar 0,1 mg). Bila BE bahan baku primer tersebut kecil sehingga yang diperlukan jauh kurang dari 200 mg (agar volume titrant minimum 40 ml), sebaiknya dibuat dulu larutan bbp dengan menimbang cukup banyak bbp tersebut dan melarutkannya dengan teliti volumenya.
b. Titrant yang terpakai hendaklah 40 ml atau lebih agar kesalahn titrasi tidak melebihi 0,1% karena kesalahan membaca letak meniskus sekitar 0,01 ml (dan ada dua pembacaan) ditambah kesalahan drainase buret sekitar 0,02 ml.
c. Sebaiknya jangan menggunakan cara titrasi kembali, tetapi langsung menuju titik akhir sebab setiap tahap pengerjaan merupakan sumber kesalahan.
d. Selalu harus dihindarkan menstandardisasi dengan sebuah selisih hasil maksimum (0,1-0,2%)

3. Bahan dan Alat yang digunakan
Bahan : – Sampel
– NaOH 0,1 N
– Asam Oksalat
– Indikator Phenolpthalein
Alat : – Labu ukur 250 ml : 1 buah
– Pipet Volumetrik 25 ml : 1 buah
– Buret 50 ml : 1 buah
– Erlenmeyer 150 ml : 4 buah
– Standart / stati : 1 buah
– Corong

4. Prosedur Percobaan
4.1 Penyiapan Larutan NaOH 0,1 N
– Cuci dan bilas botol 500 ml
– Bila larutan ini akan disimpan dalam waktu yang lama, sediakan botol plastik, sebab larutan NaOH pasti bereaksi dengan wadah kaca, walaupun perlahan.
– Timbang 2,0 gram NaOH, larutkan kedalam beaker glass 500 ml yang berisi aquades, kocok sampai larut.

4.2 Standarisasi Larutan NaOH 0,1 N
– Timbang sejumlah tertentu kristal asam oksalat (H2C2O4.2H2O) dilarutkan dalam labu 250 ml, hingga diperoleh H2C2O4.2H2O 0,1 N.
– Pipet larutan diatas sebanyak 25 ml, masukkan kedalam erlenmeyer tambakan 2 tetes phenolpthalein.
– Titrasi dengan larutan baku asam ( NaOH ) sampai terjadi perubahan warna indikator menjadi pink ( merah muda ) yang stabil. Catat volume NaOH yang terpakai.
– Lakukan titrasi duplo, hingga diperoleh konsentrasi NaOH.

4.3 Menentukan Kadar Asam Asetat dalam Cuka
Cuka dapur mengandung asam asetat 4-6%, karena komponen bersifat asam dalam cuka adalah asam asetat, maka kadarnya dapat ditentukan melalui titrasi engan larutan standar NaOH atau basa kuat lainnya. Contoh cuka, dapat diperoleh dipasar dan catat pengamatan pada labelnya seperti merek dan sebagainya.
Prosedur :
– Pipet sampel sebanyak 25 ml, masukkan kedalam erlenmeyer tambahkan 2 tetes indikator phenolpthalein.
– Titrasi dengan larutan NaOH, sampai terjadi perubahan warna indikator menjadi pink ( merah muda ) yang stabil. Catat volume NaOH yang terpakai.
– Lakukan titrasi diatas secara duplo, hitung kadar asam asetat yang diperoleh.

Harjadi, W.. 1990. Ilmu Kimia Analitik Dasar. Jakarta: Penerbit PT. Gramedia.
Khopkar, S. M.. 2002. Konsep Dasar Kimia Analitik. Penerjemah: A. Saptorahardjo. Jakarta: Universitas Indonesia.

sakarin

Zat pemanis buatan adalah bahan yang dapat menyebabkan rasa manis pada makanan. Bahan ini tidak atau hampir tidak mempunyai nilai gizi dan nilai kalori. Contoh bahan pemanis buatan yang boleh digunakan adalah sakarin. Sakarin banyak digunakan pada permen karet, permen, es krim, es lilin, minuman ringan, minuman yoghurt, dan saus.

Dari berbagai penelitian yang telah dilakukan melalui binatang-binatang percobaan, misalnya di Institut Kanker Nasional di Amerika, bahwa efek langsung bahan pemanis buatan ini sebagai penyebab kanker seperti yang selama ini diduga orang adalah sangat kecil. Akan tetapi dalam penggunaannya tetap harus berhati-hati, tidak terlalu berlebihan artinya dalam dosis yang tinggi karena tetap dapat mengakibatkan adanya gejala-gejala kanker dalam waktu relatif lama.

Sakarin merupakan salah satu zat pemanis buatan yang sering digunakan oleh produsen makanan dan minuman pada produk industri mereka. Kadar yang berlebihan dapat merugikan kesehatan terutama terhadap anak – anak. Terkadang ada beberapa produsen yang menggunakan zat pemanis buatan secara berlebihan melebihi batas standar yang diperbolehkan. Oleh sebab itu, setiap produk makanan dan minuman yang dipasarkan harus diuji di laboratorium untuk diperiksa kadar zat pemanis buatannya dan juga kadar zat – zat lain sesuai dengan batas standar yang diperbolehkan. 

 

Sakarin pertama kali ditemukan pada tahun 1879 oleh I. Remsen dan C. Fahlberg. Fahlberg menemukan rasa manis secara tidak sengaja ketika ia sedang memakan roti dan menyadari bahwa roti tersebut manis. Ia lalu mensintesa rasa manis roti tersebut ke dalam zat kimia di laboratorium sesuai dengan penelitian yang sedang dilakukannya.

 

Pembuatan Sakarin

Proses pembuatan sakarin yang paling terkenal saat ini adalah metode yang sama yang digunakan Remsen dan Fahlberg pada tahun 1879. Toluene dan asam klorosulfonic bereaksi pada suhu 0 – 50C membentuk campuran o- dan p-toluenesulfonamide. Campuran tersebut dipisahkan, dan o-toluenesulfonamide dioksidasi menjadi o-carboxybenzenesulfonamide ( asam o-sulfamoylbenzoic ). Senyawa ini dibebaskan dari air menjadi sakarin. P-toluenesulfonamide juga penting dalam pembuatan sakarin dan digunakan sebagai bahan baku pembuatan Chloramine-T.

 

Proses dasar ini telah banyak  mengalami modifikasi, khususnya pada tahap oksidasi. Orelup (37) mencampur asam chromic dengan asamsulfat dengan konsentrasi lebih dari 50%, merupakan metode yang sering digunakan saat ini. Altwegg dan Collardeau (36) menemukan bahwa keberadaan senyawa sulfat dari besi, kromium, ataupun mangan sangat membantu. Pada Lowels (29) metode elektrolitik o-toluenesulfonamide disuspensi dalam larutan alkali karbonat encer. Reaksi ini dibantu dengan tambahan timbal, serium, atau mangan. Klages (34) menggunakan suatu proses elektrolitik dengan keadaan permanganat sebagai pembawa oksigen. Alkalin kalium permanganat dan alkalin ferri sianida juga diperlukan pada proses ini. Sintesa sakarin yang didasarkan pada asam anthranilik banyak diperjualbelikan di Amerika Serikat. Sejumlah sintesa sakarin yang lain telah banyak dikembangkan, dan beberapa diantaranya telah digunakan secara luas di negara –negara lain.

  Penggunaan Sakarin

Zat pemanis yang beredar di pasaran antara lain siklamat, sakarin, dan campuran keduanya tetapi yang paling sering digunakan adalh campuran keduanya karena campuran tersebut dapat memberikan tingkat kemanisan yang tinggi dengan efek yang sedikit.

Natrium sakarin 300 – 500 kali lebih manis dari sukrosa. Garam sakarin digunakan untuk memberikan rasa pada obat – obatan, pasta gigi, dan perlengkapan mandi lainnya dan sebagai pemanis buatan pada beberapa makanan berkalori rendah dan minuman soda. Penggunaan sakarin bebas kalori sebagai pengganti gula mengubah komposisi produk – produk rendah kalori untuk orang – orang yang sedang diet dan produk – produk rendah gula untuk penderita diabetes. Terkadang sakarin dapat menimbulkan rasa pahit setelah rasa manisnya hilang. Kemungkinan ini dapat diperkecil dengan penambahan aroma dan dengan penggunaan sakarin sebagai pemanis bersamaan dengan zat pemanis lain seperti aspartame atau siklamat.

Penggunaan sakarin berbeda – beda pada setiap negara. Sakarin telah digunakan sebagai zat pemanis lebih dari 80 tahun. Walaupun penggunaan sakarin yang berlebihan dapat membahayakan kesehatan, namun sekitar 70 juta orang Amerika merupakan konsumen tetap bahkan sepertiganya terdiri dari anak – anak di bawah 10 tahun. Sekitar 60% sakarin digunakan pada minuman ringan, 20% pada minuman soda dan sekitar 20%l lainnya sebagai zat pemanis langsung. Amerika Serikat mengeluarkan izin penggunaan sakarin pada beberapa jenis makanan diet dengan peringatan : “Penggunaan produk ini dapat membahayakan kesehatan anda. Produk ini menggunakan sakarin yang telah diteliti dapat menyebabakan kanker pada hewan.“

Kanada tidak mengizinkan penggunaan sakarin pada makanan maupun obat – obatan. Kebanyakan negara mengizinkan penggunaan sakarin dengan memberikan batas penggunaan maksimum untuk mengontrol jumlah konsumen.

 

Minuman ringan (soft drink) adalah minuman yang tidak mengandung alkohol, merupakan minuman olahan dalam bentuk bubuk atau cair yang mengandung bahan makanan dan / atau bahan tambahan lainnya baik alami maupun sintetik yang dikemas dalam kemasan siap untuk dikonsumsi. Minuman ringan terdiri dari dua jenis, yaitu : minuman ringan dengan karbonasi ( carbonated soft drink ) dan minuman ringan tanpa karbonasi. Minuman ringan dengan karbonasi adalah minuman yang dibuat dengan mengabsorpsikan karbondioksida ke dalam air minum. Minuman ringan tanpa karbonasi adalah minuman selain minuman ringan dengan karbonasi.

Bahan makanan dan tambahan lainnya yang ditambahkan dalam minuman ringan terdiri dari :

–  Bahan makanan alami meliputi buah-buahan dan / atau produk dari buah-buahan, daun-daunan dan/atau produk dari daun, akar-akaran, batang/kayu tumbuhan, rumput laut, susu dan / atau produk dari susu

 Bahan makanan sintetik meliputi sari kelapa, vitamin, stimulan

–  Tambahan lainnya meliputi: pemberi rasa, pemberi asam, pemberi aroma, pewarna dan pengawet, garam

Berikut ini disampaikan penjelasan-penjelasan mengenai hal-hal yang berkaitan

dengan minuman ringan :

1.      Air berkarbonasi merupakan kandungan terbesar di dalam carbonated soft drink. Air yang digunakan harus mempunyai kualitas tinggi, yaitu: jernih, tidak berbau, tidak berwarna, bebas dari organisme yang hidup dalam air, alkalinitasnya <50 ppm, total padatan terlarut <500 ppm, dan kandungan logam besi dan mangan <0.1 ppm. Sederet proses diperlukan untuk mendapatkan kualitas air yang diinginkan, antara lain: klorinasi, penambahan kapur, koagulasi, sedimentasi, filtrasi pasir, penyaringan dengan karbon aktif, dan demineralisasi dengan ion exchanger. Karbondioksida yang digunakan juga harus semurni mungkin dan tidak berbau. Air berkarbonasi dibuat dengan cara melewatkan es kering (dry ice) ke dalam air es.

2.      Bahan pemanis yang digunakan dalam minuman ringan terbagi dalam dua kategori:

–  Natural ( nutritive ), antara lain gula pasir, gula cair, gula invert cair, sirup jagung,dengan kadar fruktosa tinggi, dan dekstrosa

–  Sintetik ( non nutritive ), satu-satunya yang direkomendaasikan oleh FDA (Food & Drugs Administration Standard, Amerika Serikat) adalah sakarin.

3.      Pemberi asam ( acidulants ) ditambahkan dalam minuman dengan tujuan untuk memberikan rasa asam, memodifikasi manisnya gula, berlaku sebagai pengawet, dan dapat mempercepat inversi gula dalam sirup/minuman. Acidulant yang digunakan dalam minuman harus dari jenis asam yang dapat dimakan (edible/food grade) antara lain asam sitrat, asam phosphate, asam malat, asam tartarat, asam fumarat, asam adipat, dan lain-lain.

4.      Pemberi aroma disiapkan oleh industri yang berkaitan dengan industri minuman dengan formula khusus, kadang-kadang telah ditambah dengan asam dan pewarna, dalam bentuk :

–  Ekstrak alkoholik ( menyaring bahan kering dengan larutan alkoholik ), misalnya: jahe, anggur, lemon-lime dan lain-lain

– Larutan alkkoholik ( melarutkan bahan dalam larutan air-alkohol ), misalnya: strawberry, cherry, cream soda  dan lain-lain

– Emulsi ( mencampur essential oil dengan bahan pengemulsi, misalnya: vegetable gum ), misalnya untuk citrus flavor, rootbeer dan kola

–  Fruit juices, misalnya: orange, grapefruit, lemon, lime dan grape

–  Caffeine, sebagai pemberi rasa pahit ( bukan sebagai stimulan )

–  Ekstrak biji kola

– Sintetik flavor, misalnya: ethyl acetate / amyl butyrate yang memberikan aroma grape

 

5.   Pewarna untuk meningkatkan daya tarik minuman

–  Natural, misalnya dari grape, strawberry, cherry dan lain-lain.

–  Semi sintetik, misalnya: caramel color

–  Sintetik, dari 8 jenis pewarna yang dapat dimakan ( food grade ), hanya 5 yang diperkenankan oleh FDA untuk digunakan sebagai pewarna dalam minuman ringan.

6.      Pengawet, misalnya asam sitrat untuk mencegah fermentasi dan sodium benzoat.

7.   Proses pembuatan

Proses produksi dimulai dengan pembuatan sirup, yaitu mencampur gula dengan air dingin, kemudian dijernihkan dengan penambahan karbon aktif dan bahan penyaring yang dilanjutkan dengan penyaringan menggunakan alat berupa plat atau frame filter. Larutan sirup kemudian dapat disterilisasi dengan penyinaran ultraviolet. Sirup, bahan tambahan, air, dan karbondioksida diaduk dengan temperatur dan tekanan diatur pada kondisi tertentu, kemudian produk akhir berupa minuman ringan dikemas dalam botol / kaleng. 

8. Pengemasan, minuman berkarbonat umumnya dikemas dalam botol (gelas/plastik) atau kaleng, sedangkan minuman tanpa karbonat dapat juga dikemas dalam kotak kardus dengan persyaratan umum sebagai berikut:

–  Mempunyai kekuatan mekanis sehingga dapat menjaga mutu, penampilan dan kandungan produk.

–  Mempunyai penampilan yang menarik.

–  Steril pada setiap pemakaian.

–  Mudah dalam pengisian maupun penyegelan

Masing-masing pengemas mempunyai kelebihan dan kekurangan antara lain:

–  Botol gelas, dapat digunakan ulang (reuse)tanpa mengalami pengolahan atau perubahan bentuk, akan tetapi harus melalui proses pencucian dan sterilisasi dengan menggunakan detergent dan soda kaustik.

–  Botol plastik, dapat didaur ulang (recycle) dengan pengolahan fisik atau kimiawi untuk menghasilkan produk sama atau produk yang lain.

–  Kaleng, dapat melindungi produk dari cahaya, mencegah kandungan produk yang mudah teroksidasi karena cahaya maupun udara dalam kaleng, akan tetapi relatif lebih mahal karena dibuat dari bahan tahan korosi misalnya dari plat baja dengan lapisan timah atau dari aluminium.

–  Kotak kardus, kekuatan mekanisnya relatif lebih rendah, umur produk singkat

Minuman ringan merupakan salah satu barang konsumsi yang paling banyak dijual di pasaran. Akibatnya banyak industri – industri minuman ringan yang didirikan. Industri – industri tersebut memiliki dampak tersendiri terhadap lingkungan dan sosial. Dalam proses pengolahan bahan baku menjadi bentuk yang siap dikonsumsi terjadi pula hasil sampingan berupa sampah atau limbah, baik berupa cair, padat maupun gas. Hal ini wajar terjadi karena dalam setiap perubahan dari satu bentuk materi menjadi bentuk lainnya tidak pernah terjadi perubahan yang efisien, selalu ada sisa yang disebut limbah. Semua limbah ini akan dikembalikan ke lingkungan. Namun jika jumlahnya sedemikian banyak maka menyebabkan pencemaran lingkungan yang berarti mengganggu kelestarian lingkungan akibat turunnya kualitas air, tanah dan udara. Hampir sebagian besar industri minuman ringan menyedot air tanah sebagai sumber bahan baku utama. Pengambilan air tanah secara berlebihan dan tidak terkendali mengakibatkan antara lain :

–  Turunnya permukaan tanah

–  Peresapan air laut sehingga menyebabkan turunnya kualitas air tanah

Eksploitasi air tanah dalam jumlah tidak terkendali akan juga memberikan pengaruh secara langsung terhadap masyarakat sekitarnya yang menggunakan air tanah untuk keperluan sehari-hari. Dampak lainnya adalah limbah yang dihasilkan oleh industri minuman ringan.

Limbah industri minuman ringan dapat berupa :

–  Limbah cair yang berasal dari proses pencucian botol karena pabrik minuman biasanya memanfaatkan kembali botol bekas. Sebagian besar volume dari kandungan air alkalin panas mengandung padatan terlarut. Dan juga limbah cair yang berasal dari ceceran / tumpahan sirup dan cairan lainnya selama proses pengadukan, pembotolan / pengalengan, pembersihan tangki, aliran pengisian bahan baku. Sumber limbah cair lainnya berasal dari sistem pengolahan air untuk bahan baku air dan dari peralatan mesin-mesin / bengkel berupa oli, minyak atau lemak. Keseluruhan limbah cair ini akan mengakibatkan turunnya kualitas air tanah yaitu meningkatnya pH, padatan tersuspensi dan BOD

–  Limbah padat yang berasal dari bekas kemasan, misalnya pecahan botol, kemasan plastikyang tidak dapat didaur ulang, sampah dari bekas kardus

Sedangkan dampak negatif yang diakibatkan industri minuman ringan terhadap lingkungan sosial atau kehidupan masyarakat antara lain;

–  Minuman ringan terutama yang mengandung karbonat mempengaruhi kinerja organ dalam terutama ginjal. Hal ini diakibatkan karena karbonat dapat mengikat kalsium dalam darah dan membentuk CaCO3 yang akan mengendap / berkumpul dalam ginjal.

Meningkatnya intensitas beberapa penyakit yang berhubungan dengan kondisi lingkungan di sekitar pabrik yang kurang sehat, misalnya penyakit kulit. Oleh sebab itu, perlu dilakukan pembangunan secara berkesinambungan, terutama untuk memperbaiki kerusakan lingkungan dan kehidupan sosial yang diakibatkan oleh industri minuman ringan dan membentuk suatu badan atau yayasan yang berkecimpung di bidang recycle, reuse, dan recovery limbah.

BEYONCE- IF I WERE A BOY LYRIC + MP3

[Verse]
If I were a boy
Even just for a day
I’d roll outta bed in the morning
And throw on what I wanted then go
Drink beer with the guys
And chase after girls
I’d kick it with who I wanted
And I’d never get confronted for it.
Cause they’d stick up for me

[Chorus]
If I were a boy
I think I could understand
How it feels to love a girl
I swear I’d be a better man.
I’d listen to her
Cause I know how it hurts
When you lose the one you wanted
Cause he’s taken you for granted
And everything you had got destroyed

[Verse]
If I were a boy
I would turn off my phone
Tell everyone it’s broken
So they’d think that I was sleepin’ alone
I’d put myself first
And make the rules as I go
Cause I know that she’d be faithful
Waitin’ for me to come home (to come home)

[Chorus]
If I were a boy
I think I could understand
How it feels to love a girl
I swear I’d be a better man.
I’d listen to her
Cause I know how it hurts
When you lose the one you wanted (wanted)
Cause he’s taken you for granted (granted)
And everything you had got destroyed

[Bridge]
It’s a little too late for you to come back
Say its just a mistake
Think I’d forgive you like that
If you thought I would wait for you
You thought wrong

[Chorus 2]
But you’re just a boy
You don’t understand
Yeah you don’t understand
How it feels to love a girl someday
You wish you were a better man
You don’t listen to her
You don’t care how it hurts
Until you lose the one you wanted
Cause you’ve taken her for granted
And everything you have got destroyed
But you’re just a boy

want this mp3,, follow this link..

sulfonasi

Istilah sulfonasi terutama digunakan untuk menyatakan reaksi-reaksi yang menggunakan pereaksi sulfonasi yang umum seperti asam sulfat pekat, oleum, dan pereaksi lainnya yang mengandung sulfur trioksida.

Sulfonasi senyawa aromatik merupakan salah satu tipe jenis sulfonasi yang paling penting. Sulfonasi tersebut dapat dilakukan dengan mereaksikan senyawa aromatik dengan asam sulfat.

Dalam percobaan sulfonasi ini, senyawa aromatik yang digunakan adalah anilin, dan percobaan dilakukan dengan mereaksikan anilin dengan asam sulfat pekat (oleum) pada suhu 1800C-1950C, dan menghasilkan produk utama berupa asam sulfanilat dan air (sebagai produk sampingannya). Reaksi:

 

 

NH2 + H2SO4 NH2 SO3H + H2O

Anilin as. Sulfat as. Sulfanilat air

Sulfonasi adalah reaksi kimia yang melibatkan penggabungan gugus asam sulfonat, -SO3H, ke dalam suatu molekul ataupun ion, termasuk reaksi-reaksi yang melibatkan gugus sulfonil halida ataupun garam-garam yang berasal dari gugus asam sulfonat, misalnya penggabungan –SO2Cl ke dalam senyawa organik. Jenis-jenis zat pensulfonasi antara lain :

1. Persenyawaan SO, termasuk didalamnya :

SO3

H2SO4

oleum

2. Persenyawaan SO2.

3. Senyawa sulfoalkilasi.

Sedangkan, zat-zat yang disulfonasi antara lain: zat alifatik misalnya hidrokarbon jenuh, oleofin, alkohol, selulosa, senyawa aromatis, naphtalena, antraquinone dan lain sebagainya.

Zat pensulfonasi yang paling efisien adalah SO3 karena hanya melibatkan satu reaksi adisi secara langsung, contohnya:

RH + SO3 RSO3H

ROH + SO3 ROSO3H

SO3 yang banyak digunakan adalah SO3 dalam bentuk hidrat (oleum atau asam sulfat pekat) karena dengan SO3 hidrat, air akan bertindak murni sebagai pelarut.

Sulfonasi senyawa aromatik merupakan salah satu jenis sulfonasi yang paling penting. Sulfonasi tersebut dapat dilakukan dengan mereaksikan senyawa aromatik dengan asam sulfat. Asam sulfat yang digunakan umumnya mengandung sulfur trioksida (oleum). Sama halnya dengan nitrasi dan halogenasi, sulfonasi senyawa aromatik adalah reaksi substitusi elektrofilik, tetapi merupakan reaksi yang dapat balik (reversibel).

Untuk proses sulfonasi senyawa aromatik yang lebih kompleks, temperatur dapat memberikan pengaruh, bukan hanya terhadap laju reaksi, tetapi juga terhadap sifat dari produk yang dihasilkan. Sebagai contoh, perubahan temperatur dalam sulfonasi naftalena menyebabkan perubahan komposisi produk asam monosulfonat dari sekitar 95% alpha isomer pada temperatur kamar menjadi 100% beta isomer pada 2000C.

Salah satu proses yang melibatkan reaksi sulfonasi yaitu pembuatan Asam Sulfanilat. Adapun proses pembuatannya yaitu,

A. Skala Laboratorium

Asam sulfanilat dapat dibuat dari reaksi antara anilin dengan oleum (asam sulfat pekat) pada suhu reaksi antara 180°C dan 195°C dengan produk utamanya yaitu asam sulfanilat, sedangkan produk sampingnya yaitu air. Pada mulanya produk yang dihasilkan larutan karena asam sulfanilat bersifat mudah larut maka untuk mendapatkan kristalnya didinginkan.

 

 

1800C

 

NH2 + H2SO4 NHHSO4 NH2 SO3H +H2O

Anilin as. Sulfat as. Alanilat as. Sulfanilat air

Produk alanilat ini merupakan produk yang tidak tentu, di mana lewat pemanasan berlanjut akan menghasilkan asam sulfanilat dan air.

B. Skala Industri

Secara komersial, asam sulfanilat dibuat dengan proses Baking. Dalam proses ini, anilin dan asam sulfat pekat dimasukkan ke dalam ke dalam suatu ketel besi tuang yang dilengkapi dengan kondensor refluks. Lalu dimasukkan benzena sulfonat, dicampurkan dalam ketel besi. Pengadukan dilakukan dalam suhu operasi 1500C, anilin dan air yang keluar dalam ketel besi akan direflux oleh kondensor. Dua jam setelah penambahan anilin (dari kondensor reflux), maka reaksi akan sempurna, dengan hasil yaitu asam sulfanilat dengan konsentrasi 97%. Dengan kata lain Proses Baking ini sangat cocok karena asam sulfanilat yang diperoleh cukup pekat dan konversinya besar.

Kebaikan menggunakan proses baking adalah:

Kondensor reflux digunakan untuk memanfaatkan kembali sisa anilin dan sulfat agar tidak terbuang begitu saja.

Dilengkapi dengan propeller untuk kesempurnaan campuran.

Sirkulasi udara dapat diatur dengan cirkulating fan.

Dilengkapi dengan coil pemanas karena suhu diatur 100 – 150°C.

Keburukan menggunakan proses baking adalah :

Temperatur harus tetap dijaga 150°C karena itu diperlukan pengawas.

Larutan asam sulfat bersifat korosif dapat merusak ketel.

Ketel harus dilengkapi pompa vakum untuk memisahkan air yang ikut terbentuk selama reaksi.

Gambar 1. Flowsheet Proses Baking

Sumber : Riegels, Chemical Engineering Handbook

Beberapa sifat Asam Sulfanilat

A. Sifat Fisika :

  1. Pada suhu kamar berbentuk kristal padat yang berwarna putih.
  2. Merupakan golongan asam yang sangat kuat.
  3. Memiliki sifat higroskopis yaitu mudah menyerap air untuk masuk ke dalam molekul-molekulnya.
  4. Berat molekul : 173,19
  5. Titik cair : 288°C
  6. Titik didih : 172-187°C
  7. Mudah larut dalam air panas dan pelarut polar lainnya

B. Sifat Kimia :


  1.  

     

    Asam sulfanilat dapat dihidrolisa menghasilkan asam sulfat dan anilin

NH2 SO3H + H2O NH2 + H2SO4

Asam Sulfanilat Air Anilin Asam Sulfat


  1.  

     

    Dengan basa akan membentuk garam, dan dapat bereaksi dengan asam nitrat menghasilkan p-nitro anilin

NH2 SO3H + HNO3 NH2 NO2 + H2SO4

Asam Sulfanilat As. Nitrat p-nitro Anilin As. Sulfat

  1. Dapat bereaksi dengan amida menghasilkan sulfanilamide.

 

O

 

NH2 SO3H + R C NH2 SO3NH2 + RCOOH

NH2

Asam Sulfanilat Amida Sulfanilamide As. Karboksilat


  1.  

    Asam dulfanilat hampir mengalami reaksi ionisasi komplit (sempurna) dalam air.

 

NH2 SO3H NH2 SO3 + H+

Asam Sulfanilat p-sulfit Anilin

Kegunaan asam sulfanilat :

  1. Digunakan sebagai katalis dalam industri
  2. Dapat digunakan sebagai detergent atau sebagai zat pengemulsi.
  3. Sebagai zat pendamar ion
  4. Sebagai zat perantara untuk dyes (bahan celup),pestisida ( untuk membunuh kuman).
  5. Sebagai bahan dasar dalam industri farmasi

Asam sulfanilat sendiri pada dunia industri yang paling banyak adalah sebagai bahan baku pembuatan obat-obatan dalam industri farmasi. Asam sulfanilat merupakan sumber bahan obat-obatan sulfa yang bersifat sebagai antibacterial agen.

Pada tahun 1935, Domagk, seorang peneliti dari Jerman, adalah orang pertama yang meneliti nilai klinis dari protonsil yaitu suatu senyawa berwarna merah yang berasal dari pewarna azo. Para-aminobenzensulfanilat merupakan bagian yang efektif dari molekul protonsil. Senyawa ini disebut sebagai sulfanilat. Sulfanilat merupakan senyawa yang pertama dari kelompoknya yang digunakan secara meluas untuk percobaan klinis, dan ditemukan bahwa obat-obatan sulfanilat memang efektif untuk pengobatan penyakit hemolitic streptococcal dan infeksi staphylococcal. Dalam jangka waktu yang relatif singkat, obat-obatan yang berhubungan dengan sulfanilat disintesa dan dilakukan juga percobaan klinis. Obat-obat sintesa tersebut antara lain: sulfapyridine, sulfathiazole, sulfaguanidine, sulfadiazine, dan sulfamerazine. Obat-obatan ini bekerja dengan menghambat pertumbuhan bakteri bukan dengan membunuh organisme.

Walaupun sejumlah efek samping dari penggunaan obat-obatan sulfanilat ditemukan, sulfanilat memegang peranan yang penting dalam dunia pengobatan sebelum adanya antibiotika. Dalam beberapa tahun belakangan, penggunaan obat-obatan yang disebut sebagai obat sulfa tersebut telah hilang, tetapi untuk kasus-kasus tertentu obat sulfa masih digunakan sebagai antimikroba. Unuk masa sekarang, sulfanilat digunakan terutama untuk mengobati infeksi ringan pada saluran urin, termasuk prostatitis yang disebabkan oleh bakteri E. Coli. Obat sulfa juga pernah digunakan dalam pengobatan meningococcal meningitis dan disentri basil. Namun, setelah beberapa tahun, ketahanan basil penyebab penyakit terhadap obat pun meningkat sehingga obat menjadi kurang efektif.

Dalam beberapa tahun terakhir, telah diproduksi obat sulfa yang baru, diantaranya: trimethoprim-sulfamethoxazol. Obat ini telah meperluas pengobatan terhadap infeksi saluran urin yang berasal dari klebsiella, enterobacter dan proteus, selain E. Coli. Obat ini juga digunakan untuk pengobatan penyakit otitis akut pada anak-anak.

Sifat-sifat senyawa sulfanilat (bekerja secara cepat, dapat sinergis dengan kebanyakan obat-obatan, penyerapan yang sedikit, dan efektifitas lainnya) sangat bermanfaat. Sulfanilat efektif (yang bekerja secara cepat) meliputi sulfisoxazole, sulfadiazine, dan trisulfapyrimidine. Sedangkan sulfanilat menengah yang banyak digunakan adalah sulfamethoxazole.

Efek samping dari penggunaan sulfanilat diantaranya: dapat menimbulkan hiper-sensitivitas yang disebut ‘drug fever’, rasa mual dan muntah. Hal ini dapat terjadi akibat frekuensi pemakaian sulfanilat yang berlebih. Obat-obatan sulfa biasanya jug dapat menyebabkan anemia hemolitik, dan kernicterus (pada bayi) melalui air susu ibunya yang mengkonsumsi obat sulfa tersebut.